Dwi Sutrisniwati

Lahir tgl. 6 Oktober 1971 dari seorang penjaga sekolah yg berkeinginan agar anak2nya mjd guru. Mengajar di SDN puhgogor 01, ingin mjd org yg bermanfaat bg org ...

Selengkapnya
Rahasia Ramadhan II

Rahasia Ramadhan II

RUKUN, SYARAT SAH, SYARAT WAJIB DAN PERKARA YANG MEMBATALKAN PUASA

A. Rukun Puasa:

1. Niat.

a. Niat wajib dilakukan dengan hati, dan tidak disyaratkan harus mengucapkan lafadh niatnya dengan lisan, tetapi hanya disunahkan mengucapkan lafadh niat sebagai pembantu pada hati.

b. Menurut Mazhab Syafi'i niat disyaratkan harus ada setiap malam / tabyit niat, sehingga satu kali niat pada malam awal Ramadhan tidaklah mencukupi untuk seluruh puasa Ramadhan, hanya cukup untuk hari pertama saja.

c. Ada sedikit perbedaan tentang waktu niat bagi puasa wajib dengan puasa sunah. Untuk puasa wajib, disyaratkan harus berniat pada waktu malam hari. Sedangkan untuk puasa sunah boleh niat sebelum tergelincir matahari dengan syarat belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

d. Dalam niat puasa wajib juga harus ditentukan (ta`yin) puasa yang ia lakukan, misalnya puasa wajib Ramadhan, puasa Nadzar atau kafarah.

2. Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa.

B. Syarat sah puasa:

1. Islam.

2. Berakal.

3. Bersih dari haidl, nifas serta wiladah.

a. Tiga syarat ini harus ada pada sehari penuh untuk sah puasa, sehingga bagi seseorang yang sempat hilang akalnya (gila) sesaat, datang haidl dan nifas pada tengah hari, maka puasanya tidak sah.

b. Hal ini sedikit berbeda dengan orang pingsan, bila ia sempat sadar walau sesaat, maka puasanya sah sedangkan bila ia tidak sadar seharian penuh, maka puasanya tidak sah.

c. Berbeda lagi dengan orang yang tidur seharian penuh, puasanya tetap sah.

4. Tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa.

C. Hal-hal yang membatalkan puasa:

1. Jimak.

2. Sengaja muntah.

3. Memasukkan sesuatu ke dalam rongga dalam lewat lubang terbuka.

Disyaratkan rongga tersebut haruslah rongga terbuka sehingga bila masuk sesuatu melalui pori-pori kulit atau melalui suntikan pada daging, maka tidaklah membatalkan puasa.

4. Onani.

5. Keluar mani karena bersentuhan dengan wanita.

a. Sedangkan keluar mani/sperma karena sebab lain seperti karena menghayal, melihat hal-hal yang membangkitkan syahwat, maka tidaklah membatalkan puasa.

b. Disini dapat dipahami tentang masalah yang sering ditanyakan oleh masyarakat, apakah sah puasa orang yang berjunub karena mimpi basah, jawabannya tentu saja sah. Yang membatalkan puasa hanyalah keluar mani yang disebabkan bersentuhan dengan wanita.

c. Semua hal-hal yang membatalkan puasa tersebut baru bisa membatalkan bila dikerjakan dengan adanya unsur sengaja dan teringat sedang berpuasa. Maka bila ia melakukan salah satu hal yang membatalkan puasa atau karena tidak teringat bahwa ia sedang puasa maka tidaklah membatalkan puasa.

D. Syarat wajib puasa:

1. Berakal sehat.

2. Baligh.

3. Sanggpup menjalankan puasa.

a. Bagi orang yang tidak berakal (gila) tidak diwajibkan puasa sama sekali.

b. Sedangkan bagi anak-anak yang belum baligh juga tidak diwajibkan puasa namun terhadap walinya, bila ia mampu berpuasa, wajib memerintahkannya untuk berpuasa bila ia telah mencapai umur 7 tahun hijriyyah.

E. Orang-orang yang dibolehkan tidak berpuasa:

1. Orang sakit yang dapat menimbulkan mudharat bila ia berpuasa .

Terhadap orang sakit boleh baginya untuk berbuka pausa, namun wajib baginya untuk mengqadha'nya. Sedangkan bagi oyang sakit yang tidak ada harapan akan sembuh, maka sebagai ganti puasa wajib baginya membayar fidyah sebaganyak 1 mud kepada faqir miskin untuk satu hari puasa.

2. Musafir.

dengan ketentuan perjalanan yang ia tempuh mencapai jarak yang dibolehkan qashar shalat ( 138,24 km. menurut madzhab Syafi'i) dan semenjak sebelum terbit fajar shodiq ia telah musafir. Maka bila seseorang melakukan perjalanan setelah subuh, maka untuk hari tersebut tidak dibenarkan baginya untuk berbuka puasa. Terhadap musafir yang tidak berpuasa, maka wajib untuk mengqadha'nya tanpa membayar fidyah.

3. Orang tua renta.

Terhadap orang yang sudah pikun dan tidak sanggup lagi berpuasa, maka dibolehkan baginya meninggalkan puasa tetapi diwajibkan baginya membayar fidiyah berupa bahan makanan pokok kepada faqir miskin sebanyak 1 mud untuk satu hari puasa.

4. Wanita hamil atau menyusui .

a. Terhadap wanita hamil dan menyusui bila ia berbuka puasa karena takut terhadap kesehatan dirinya sendiri atau kesehatan dirinya beserta anaknya maka terhadap keduanya hanya wajib mengqadha' puasa tanpa wajib membayar fidyah.

b. Sedangkan bila ia berbuka karena takut terhadap kesehatan anaknya saja, maka wajib terhadapnya qadha' puasa dan membayar fidyah sebanyak 1 mud untuk setiap hari.

c. Ukuran 1 mud adalah 0,864 liter, jika dibandingkan denga kilo gram adalah 0,6912 kg (Berdasarkan berat beras 1 liter 0,8 kg) dibulatkan menjadi 0,7 kg.

F. Kafarah kubro puasa Romadlon.

Perkara yang mewajibkan kafarot puasa adalah membatalkan puasa dengan jimak yang berdosa dengan sebab puasa, Adapun kafarat puasa tersebut adalah :

1. Memerdekakan budak muslim, bila tidak mampu maka:

2. Puasa dua bulan berturut-turut, bila tidak mampu maka:

3. Memberi bahan makanan pokok kepada 60 faqir miskin.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali